Ketegangan di Ukraina Berlanjut, Dolar AS Perkasa

Nilai tukar dolar Amerika Serikat (USD) terhadap sejumlah mata uang utama pada akhir perdagangan Rabu waktu setempat (Kamis pagi WIB) ditutup menguat. Kondisi itu terjadi karena pelaku pasar menilai ketegangan geopolitik yang masih berlangsung atas Ukraina.

Mengutip Antara, Kamis, 24 Februari 2022, indeks dolar, yang mengukur greenback terhadap enam mata uang utama, tercatat naik 0,17 persen pada 96,1910. Pada akhir perdagangan di New York, mata uang euro melemah terhadap dolar AS menjadi USD1,1312 dari USD1,1338 di sesi sebelumnya, dan pound Inggris turun menjadi USD1,3536 dari USD1,3592.

Sementara itu, dolar Australia naik menjadi USD0,7236 dibandingkan dengan USD0,7221. Dolar AS terhadap yen diperdagangkan sebesar 114,97 yen Jepang, lebih rendah dari 115,08 yen pada sesi sebelumnya. Dolar AS turun menjadi 0,9182 franc Swiss dari 0,9211 franc Swiss, dan turun menjadi 1,2738 dolar Kanada dari sebelumnya 1,2753 dolar Kanada.

Analis di Commerzbank Antje Praefcke mengatakan bahwa untuk pasar valuta asing masih akan terpengaruh krisis Ukraina yang mengindikasikan kebijakan moneter akan mengalami tekanan untuk menghindari risiko kerugian.

“Akibatnya volatilitas meningkat dan mata uang utama seperti JPY (Yen Jepang) dan CHF (franc Swiss) kemungkinan akan tetap diminati, begitu juga dolar AS,” katanya.

Di sisi lain, indeks harga saham di Wall Street pada pada akhir perdagangan Rabu waktu setempat (Kamis pagi WIB) ditutup terkoreksi. Tekanan terjadi lantaran dipengaruhi pengumuman Ukraina dalam keadaan darurat dan negara-negara barat meluncurkan lebih banyak sanksi terhadap Rusia atas langkahnya ke Ukraina timur.

Indeks Dow Jones Industrial Average turun 309,45 poin atau 0,92 persen, menjadi 33.287,16 poin. Kemudian indeks S&P 500 merosot 53,36 poin atau 1,24 persen menjadi 4.251,4. Sedangkan Nasdaq Composite turun 234,72 poin atau 1,75 persen menjadi 13.146,79.

Nasdaq memimpin penurunan sekitar 1,8 persen pada perdagangan sore, sementara saham sektor teknologi informasi SPLRCT menjadi penghambat terbesar pada indeks S&P 500. Departemen Luar Negeri AS mengatakan bahwa invasi Rusia ke Ukraina masih berpotensi terjadi, sejalan dengan itu bahwa Washington belum melihat indikasi Rusia mundur.

 

Sumber : medcom.id
Gambar : Antaranews.com

BAGIKAN BERITA INI

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *