Italia: 50 Persen Penumpang Pesawat China ke Milan Positif Covid-19

Pemerintah Italia bakal mewajibkan tes Covid-19 kepada seluruh pendatang dari China setelah 50 persen penumpang dalam dua penerbangan dari Beijing ke Milan dinyatakan positif virus corona.

Dua pesawat dari China itu menjadi penerbangan perdana Negeri Tirai Bambu yang dikenakan pemeriksaan Covid-19 menyusul gelombang baru virus corona yang tengah berlangsung di negara Asia itu.

“Pada penerbangan pertama, dari 92 penumpang ada 35 orang (38 persen) positif Covid-19. Pada penerbangan kedua, dari 120 penumpang, 62 penumpang (52 persen) positif Covid-19,” ujar Anggota Dewan Kesejahteraan Regional Lombardy, Guido Bertolaso, dalam konferensi pers pada Rabu (28/12) seperti dikutip SkyNews.

Melansir Bloomberg, menurut laporan otoritas Milan, sebagian besar penumpang positif Covid-19 itu tidak menunjukkan gejala apa-apa.

Namun, media lokal Italia melaporkan pemerintah khawatir soal kemunculan varian baru Covid-19 di tengah lonjakan penularan di China.

Karena itu, selain melakukan tes Covid-19, otoritas Milan juga bakal melakukan tes sequencing guna meneliti apakah terdapat varian Covid-19 baru di antara para penumpang yang dinyatakan positif virus corona tersebut.

Jika terkonfirmasi ada varian baru, pemerintah Italia berencana menerapkan pemeriksaan dan aturan yang lebih ketat kepada setiap pendatang dari Negeri Tirai Bambu.

Italia berada dalam kesiagaan besar soal gelombang Covid-19 baru di China lantaran negara Eropa itu pernah menjadi pusaran penularan virus corona di awal pandemi berlangsung.

Italia menjadi negara yang paling terdampak penularan Covid-19 di awal pandemi.

Namun, Italia mampu dengan cepat meredam penularan itu menyusul tingkat vaksinasi Covid-19 yang tinggi.

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO), lebih dari 80 persen warga Italia sudah melakukan vaksinasi lengkap. Banyak dari mereka pun telah mendapat vaksinasi booster.

Selain Italia, sejumlah negara lainnya seperti Amerika Serikat, India, Malaysia, hingga Filipina telah merespons gelombang Covid-19 di China dengan memperketat pemeriksaan para pendatang dari Negeri Tirai Bambu.

Sementara itu, negara lainnya seperti Inggris, Australia, dan Jerman masih memonitor dengan ketat situasi Covid-19 di China.

China terus dihadapkan dengan gelombang Covid-19 terutama sejak pemerintahan Presiden Xi Jinping mencabut aturan lockdown ketat imbas protes warga yang merasa frustrasi.

Sejumlah ahli menganggap keputusan Xi itu menjadi bumerang lantaran dilakukan mendadak dan tanpa persiapan soal pencegahan penularan Covid-19 setelah pembatasan lockdown dicabut.

Sejauh ini, China belum mengeluarkan data resmi soal total jumlah kasus Covid-19 terbaru. Otoritas China bahkan berhenti melaporkan kasus harian Covid-19 di tengah lonjakan saat ini.

Di sisi lain, WHO hingga AS mendesak China untuk transparan soal jumlah kasus Covid-19 dan situasi secara menyeluruh di Negeri Tirai Bambu.

Sebab, rumah sakit hingga tempat krematorium jenazah di China dilaporkan mulai kewalahan menangani lonjakan pasien dan jenazah Covid-19 yang menumpuk.

Laporan internal otoritas China yang bocor ke media bahkan memaparkan ada sekitar lebih dari 250 juta kasus Covid-19 di Negeri Tirai Bambu selama dua pekan pertama Desember ini.

 

 

 

 

Sumber : cnnindonesia.com
Gambar : CNN Indonesia

BAGIKAN BERITA INI

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *