Harga Emas Menguji Level Kritis di USD 1.675 per Ounce

Harga emas masih terus terombang-ambing dan kemungkinan bakal kembali jatuh. Pada pekan ini, harga emas akan menguji level support kritis setelah jatuh ke level terendah dalam lebih dari dua tahun.

seiring dengan penurunan harga emas, sentimen dari para analis di Wall Street dan investor ritel telah berubah dari bullish menjadi bearish. Banyak alasan yang membuat harga emas bakal turun pada pekan ini.

Aksi jual emas yang terjadi pada minggu lalu merupakan kelanjutan dari tren yang sudah dimulai sejak awal Maret karena pasar bereaksi terhadap tindakan kebijakan moneter agresif Bank Sentral AS atau the Federal Reserve (the Fed).

Bank Sentral AS memang terus menerus menaikkan suku bunga untuk mendinginkan inflasi dan hal ini berdampak buruk ke harga emas.

Banyak analis mengatakan bahwa harga emas masih akan tertekan di pekan ini. Sulit bagi logam mulia untuk menemukan momentum bullish dalam waktu dekat dengan melihat berbagai sentimen yang ada.

“Aksi jual emas berlebihan, tetapi aset ini tidak pulih dengan cepat dari penurunan tersebut. Jadi dalam waktu dekat, kita bisa melihat lebih banyak pelemahan,” kata Presiden Adrian Day Asset Management, Adrian Day dikutip dikutip dari Kitco, Senin (18/9/2022).

Minggu ini, total 22 analis mengambil bagian dalam survei Kitco News. Empat belas analis atau 63 persen memperkirakan harga emas akan bearish pada minggu ini. Pada saat yang sama empat analis atau 18 persen menyatakan bahwa harga emas akan bullish dan jumlah yang sama menyatakan harga emas akan stabil.

Di sisi investor ritel, sebanyak 1.045 responden mengambil bagian dalam jajak pendapat online. Sebanyak 395 pemilih, atau 38 persen melihat harga emas bakal naik.

Namun 489 lainnya atau 47 persen memperkirakan harga emas akan jatuh. Sisanya 161 pemilih atau 15 persen menyerukan pasar emas bakal sideways.

Sentimen Bearish

Sentimen bearish datang karena harga emas jatuh ke level terendah lebih dari dua tahun di USD 1.661,90 per ounce pada pekan lalu. Logam mulia terakhir diperdagangkan pada USD 1.684,30 per ounce, turun sekitar 2,5 persen pada Jumat lalu.

Dengan melihat sentimen bearish yang sangat jelas tersebut, pertanyaannya adalah seberapa jauh harga emas bisa turun. Banyak analis mencatat bahwa USD 1.675 mewakili level support yang signifikan. Penurunan di bawah level ini akan menandakan berakhirnya tren naik tiga tahun emas.

Analis lain melihat beberapa dukungan awal harga emas di sekitar USD 1.650. Namun, Colin Cieszynski, kepala strategi pasar di SIA Wealth Management Inc, mengatakan ada sedikit dukungan untuk emas jika menyentuh level USD 1.550 per ounce.

Direktur pelaksana di Bannockburn Global Forex Marc Chandler mengatakan, target harga emas berikutnya adalah USD 1.615 sampai USD 1.650 dan tidak menutup kemungkinan harga akan turun ke USD 1.500 pada tahun depan.

Bunga The Fed

Meskipun tidak mungkin The Fed menaikkan suku bunga sebesar 1 persen minggu ini, pasar masih melihat tindakan agresif dari bank sentral sepanjang sisa tahun ini.

“Emas bertindak seperti aset berisiko dan harus diperlakukan seperti itu. Kesampingkan narasi safe-haven dan lindung nilai inflasi,” jelas Marc Chandler.

Namun, tidak semua analis melihat bearish pada emas. Kepala analis komoditas di Saxo Bank, Ole Hansen, mengatakan bahwa kemampuan emas untuk mengakhiri minggu ini di atas USD 1.680 bisa menandakan pergerakan yang kuat.

Hansen menambahkan bahwa langkah The Fed untuk menaikkan suku bunga sebesar 75 basis poin dapat memberikan sedikit reli bantuan pada emas.

“Saya juga bertanya-tanya berapa banyak saham yang perlu turun sebelum stagflasi mulai menarik perhatian,” katanya.

Pendiri Moor Analytics Michael Moor mengatakan, aksi jual emas bisa terhenti karena sudah terlalu besar. Namun, dia menambahkan bahwa perlu ada tanda penutupan yang solid di atas USD 1.687 per ounce.

 

 

 

 

 

Sumber : liputan6.com
Gambar : Okezone economi

BAGIKAN BERITA INI

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *