Dolar AS Terpangkas di Tengah Lonjakan Inflasi di Seluruh Dunia

Dolar Amerika Serikat (AS) mundur sedikit dari level tertinggi 16-bulan pada akhir perdagangan Kamis (Jumat pagi WIB). Para pedagang menilai apakah lonjakan mata uang AS baru-baru ini, didorong oleh ekspektasi pengetatan bank-bank sentral yang berbeda di tengah lonjakan inflasi di seluruh dunia, sudah terlalu jauh.

Mengutip Antara, Jumat, 19 November 2021, indeks dolar, yang mengukur mata uang AS terhadap sekeranjang enam mata uang utama saingannya, mencapai tertinggi sejak pertengahan Juli 2020 pada Rabu waktu setempat (Kamis WIB) di 96,226, tetapi terakhir turun 0,272 persen pada 95,553.

“Kami telah mengalami pergerakan dolar yang sangat besar dalam beberapa minggu terakhir, dan saya pikir kami sedang mengambil jeda sekarang,” kata Ahli Strategi Mata Uang Wells Fargo Securities Erik Nelson.

Data AS baru-baru ini menunjukkan inflasi pada Oktober berjalan pada titik terpanas sejak 1990, sementara angka penjualan ritel melampaui perkiraan, membuat pasar memperkirakan kenaikan suku bunga lebih awal oleh Federal Reserve daripada yang telah diantisipasi, mendorong greenback menguat.

“Dolar telah mengalami reli penuh dan sekarang pasar akan mundur dan menilai apakah memang tema inflasi berlanjut pada kecepatan yang diperkirakan semua orang,” kata Direktur Pelaksana Strategi Valas BK Asset Management Boris Schlossberg.

“Jika itu benar, maka tidak ada yang menghentikannya, tetapi saya pikir jika angka-angka mulai sedikit lebih dingin saat kita maju, Anda pasti akan melihat sedikit kemunduran dolar di seluruh papan,” tambahnya.

Euro

Euro naik 0,45 persen menjadi 1,13695 dolar AS, memantul dari level terendah 16-bulan pada Rabu, 17 November, di bawah 1,13 dolar AS. Sterling naik tipis 0,1 persen versus greenback menjadi 1,3494 dolar AS, setelah melonjak 0,5 persen, usai data menunjukkan kenaikan inflasi di Inggris bulan lalu.

Dolar Selandia Baru naik 0,55 persen menjadi 0,7036 dolar AS setelah survei bank sentral menunjukkan inflasi jangka pendek diperkirakan akan meningkat. Di tempat lain, lira Turki turun lagi 2,83 persen setelah bank sentralnya memangkas suku bunga sebesar 100 basis poin menjadi 15 persen.

“Lira tetap menjadi karung tinju, dan pelemahan lebih lanjut tidak ada habisnya,” kata Edward Moya, analis pasar senior di Oanda.

Lira telah kehilangan sekitar 11,5 persen dari nilainya bulan ini di tengah kritik baru Presiden Tayyip Erdogan terhadap suku bunga dan seruan untuk stimulus meskipun ada risiko. Lira terakhir di 10,909, setelah sebelumnya mencapai rekor terendah 11,30 per dolar.

Mata uang terkait komoditas rebound bersama dengan harga minyak, yang sebelumnya telah turun ke posisi terendah enam minggu. Dolar Kanada naik tipis dari level terendah enam minggu, menguat 0,08 persen menjadi 1,26 dolar Kanada per dolar AS. Pasar memperkirakan bank sentral Kanada akan mulai menaikkan suku bunga awal tahun depan.

 

 

 

 

 

Sumber : medcom.id
Gambar : Suara Merdeka

BAGIKAN BERITA INI

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *