Dolar AS Menguat, Kilau Emas Sedikit Pudar

Harga emas dunia di pasar spot hari ini melorot lagi usai kemarin ditutup anjlok. Penguatan mata uang dolar Amerika Serikat (AS) jadi sentimen pemicunya.

Pada Rabu (8/4/2020) harga emas dunia di pasar spot turun 0,13% ke level 1.646,34/troy ons. Walau tergelincir, saat ini harga emas masih cukup perkasa di atas level US$ 1.600/troy ons. Kemarin harga emas turun 0,8%.

Salah satu sentimen pemicu turunnya harga emas adalah menguatnya mata uang dolar AS. Penguatan dolar greenback tercermin dari naiknya indeks dolar. Pada pagi ini pukul 09.23 WIB, indeks dolar menguat 0,18%.

Penguatan dolar terhadap mata uang lainnya membuat harga emas menjadi semakin mahal terutama bagi pemegang mata uang lainnya, mengingat logam mulia tersebut ditransaksikan dalam dolar AS.

Selain itu, ada kabar yang cukup menggembirakan yang membuat harga emas tergelincir dua hari terakhir. Jumlah kasus infeksi virus corona memang masih bertambah. Namun lajunya menurun terutama di negara-negara dengan jumlah kasus paling banyak seperti di AS dan Italia. Ada indikasi bahwa wabah sudah akan mencapai puncaknya.

US Centers for Desease Control and Prevention mencatat pada 6 April ada 28.515 kasus baru di Negeri Paman Sam. Turun dibandingkan rekor tertinggi yang dicapai pada 4 April, yaitu bertambah 33.508 kasus dalam sehari. Laju pertumbuhan penyebaran domestik juga melambat. Pada 7 April, pertumbuhan pasien baru yang disebabkan kontak antar-manusia di dalam negeri adalah 8,13% dibandingkan hari sebelumnya. Jauh di bawah rata-rata selama 24 Februari-7 April, yaitu 38,26%.

“Mungkin ini adalah pertanda yang baik. Ada indikasi bahwa AS mulai melihat cahaya di ujung terowongan,” kata Presiden AS Donald Trump kepada para jurnalis di Gedung Putih, sebagaimana diberitakan Reuters.

Hal ini membuat pasar saham menjadi sumringah beberapa hari kemarin dan cukup menekan harga emas.

“Apa yang kami saksikan di pasar saham lebih mencerminkan stabilisasi ketika wabah corona mulai memuncak di beberapa yurisdiksi A.S.,” kata Bart Melek, kepala strategi komoditas di TD Securities, melansir Reuters.

“Ini benar-benar memberi tahu kita bahwa mungkin wabah akan segera berakhir, tetapi tidak berarti dunia sudah ramah dan minim risiko,” katanya, seraya menambahkan bahwa ekspektasi lebih banyak stimulus dengan suku bunga yang lebih rendah untuk jangka panjang akan terus berlanjut, mendukung harga emas.

Selagi tak ada tekanan jual yang masif di bursa saham global seperti yang terjadi pada periode pertengahan Maret lalu, harga emas kemungkinan besar tidak akan anjlok dalam. Emas masih dilihat sebagai aset safe haven. Kala ekonomi sedang tak kondusif emas diburu dan harganya melambung.

Pandemic corona membuat aktivitas sehari-hari terganggu. Banyak negara yang memilih mengambil langkah lockdown. Sementara sebagian lain memilih menjaga jarak aman dalam bersosialisasi serta bekerja di rumah. Hal ini jelas membuat ekonomi terpukul. Banyak ekonom meyakini resesi global adalah buntut dari wabah yang merebak sekarang.

“Alasan mendasar mengapa reli terjadi beberapa hari terakhir ini bukan hanya karena pelebaran spread (antara emas spot dan COMEX), tetapi juga fakta bahwa kami melihat langkah-langkah tambahan yang dilakukan oleh bank sentral,” kata analis Saxo Bank, Ole Hansen, sebagaimana diwartakan Reuters.

“Mereka sudah berbicara tentang paket berikutnya di AS yang akan dirilis setelah Paskah. Selama kita melihat inisiatif ini dikombinasikan dengan potensi pelunakan dolar, potensi kenaikan emas masih bisa terjadi.” tambahnya.

 

 

 

 

Sumber : cnbcindonesia.com
Gambar : Warta Ekonomi

 

 

 

 

 

[social_warfare buttons=”Facebook,Pinterest,LinkedIn,Twitter,Total”]

BAGIKAN BERITA INI

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *