Kata Resesi Semakin Sering Disebut, Yen Terus Menguat

Mata uang yen Jepang kembali menguat melawan dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Senin (12/8/19). Status aset aman (safe haven) yang dimiliki Mata Uang Negeri Matahari Terbit ini terus menjadi penopang penguatan.

Pada pukul 8:20 WIB, yen diperdagangkan di kisaran 105,45/US$ atau menguat 0,19% di pasar spot, melansir data Refinitiv.

Kecemasan akan resesi semakin meningkat akibat AS dan China tak kunjung akur, malah semakin memanas. Perang dagang antara kedua negara kini dibumbui dengan potensi terjadinya perang mata uang. Dua hal yang dikatakan bisa memicu resesi bahkan Depresi Besar (Great Depression). Hal itu diungkapkan oleh Profesor ekonomi di Cornell University, Stephen Charles Kyle.

Kyle mengatakan kenaikan tarif impor dan depresiasi mata uang mempercepat langkah ekonomi memasuki Great Depression pada tahun 1930an.

“Kita bahkan tidak ingin berada pada langkah awal di jalur ini. Inilah yang persis terjadi saat Great Depression 1930: setiap negara menaikkan tarif impor, dan bersaing dengan mitra dagangnya dengan mendepresiasi nilai tukar mata uangnya. Beberapa tahun setelahnya, berdagangan global hampir berhenti total” kata Kyle sebagaimana dikutip Washington Post.

Selain itu, bank Goldman Sachs kini memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi AS untuk kuartal IV-2019 menjadi 1,8% dari sebelumnya 2%.
Goldman Sachs mengatakan bahwa perang dagang AS-China telah meningkatkan kekhawatiran mengenai resesi. Goldman tidak lagi mengharapkan kesepakatan dagang antara dua ekonomi terbesar dunia itu terjadi sebelum pemilihan presiden AS tahun 2020 nanti.

Lembaga keuangan asal AS itu juga memperingatkan bahwa gangguan dalam rantai pasokan dapat menyebabkan perusahaan AS mengurangi aktivitas domestik mereka. Selain itu, kebijakan yang tidak jelas seperti itu juga dapat membuat perusahaan- perusahaan menurunkan belanja modal mereka.

Semakin memanasnya hubungan AS-China akan tercermin dari kebijakan Bank Sentral China (People’s Bank of China/PBoC) dalam menetapkan kurs tengah yuan. Jika PBoC kembali melemahkan yuan hubungan dua raksasa ekonomi dunia ini akan semakin panas, dan yen kembali diuntungkan.

Penasehat perdagangan Presiden Trump, Peter Navaro, pada Jumat (9/8/19) lalu mengatakan AS akan mengambil tindakan keras jika terus mendepresiasi mata uangnya.

“Jelas, mereka (China) memanipulasi mata uangnya dari sudut pandang perdagangan” kata Navaro dalam acara “Closng Bell” CNBC International pada Jumat lalu. “Jika mereka terus melakukannya, kita (AS) akan mengambil tindakan keras pada mereka” tegas Navaro.

 

 

 

 

 

 

Sumber : cnbcindonesia.com
Gambar : Forexlive

 

 

 

[social_warfare buttons=”Facebook,Pinterest,LinkedIn,Twitter,Total”]

 

BAGIKAN BERITA INI

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *