Ekonomi China Melambat, RI Dinilai Perlu Genjot Manufaktur

Indonesia dinilai perlu menyiasati pertumbuhan ekonomi China yang melambat dengan menggenjot ekspor pada sektor manufaktur. Tahun lalu, pertumbuhan ekonomi China tercatat tumbuh 6,6 persen, terendah dalam 28 tahun terakhir dan diperkirakan belum akan pulih di tahun ini.

Kepala Mandiri Institute Moekti Soejachmoen mengatakan saat ini pola impor China mulai bergeser dari bahan baku ke barang konsumsi. Pola baru ini, menurut dia, penting untuk dicermati pemerintah dan pelaku usaha dalam mempertahankan kinerja ekspor.

“Indonesia harus mulai fokus ke sektor manufaktur atau memproduksi barang-barang yang diminati oleh ekonomi China yaitu lebih ke barang-barang konsumsi,” kata Moekti di kantornya, Senin (21/1).

China saat ini merupakan pasar yang penting bagi Indonesia. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), China saat ini merupakan importir terbesar produk Indonesia. Nilainya mencapai US$24,39 miliar pada sepanjang 2018.

Saat ini, ekspor Indonesia ke China masih didominasi oleh barang-barang komoditas, seperti batu bara. Namun, permintaanya diperkirakan turun seiring dengan perlambatan perekonomian China yang diperkirakan belum akan pulih tahun ini.

Belum lagi, pemerintah China sendiri tahun ini menggeser fokus utama pertumbuhan ekonomi dari konsumsi domestik.

Deputy Head of Equity Research Mandiri Sekuritas Tjandra Lienandjaja memprediksi ekspor batu bara ke China bakal terpangkas tahun ini. Padahal, China merupakan konsumen batu bara terbesar bagi Indonesia. Hal ini tentunya akan mempengaruhi kinerja emiten di sektor batu bara.

“Untuk penurunan ekspor ke China memang kami ekspektasi tidak mungkin sama seperti tahun lalu. Memang kami ekspektasi akan ada penurunan dalam pencapaian (ekspor) mereka (perusahaan eksportir batu bara),” kata Tjandra.

Kurangi Ketergantungan Komoditas

Selain untuk menyiasati pelemahan pertumbuhan ekonomi China, peningkatan industri sektor manufaktur dinilai Moekto dapat menjadi solusi dari ketergantungan ekspor Indonesia terhadap komoditas. Data BPS menunjukkan kontribusi ekspor terbesar berasal dari bahan bakar mineral mencapai US$24,59 miliar atau 15,12 persen dari total ekspor. Kemudian disusul lemak minyak hewan nabati US$20,35 miliar atau setara 12,51 persen.

“Kita tidak bisa terus menerus menggantungkan ekonomi kepada komoditas. Harga komoditas lebih berfluktuasi sementara manufaktur lebih stabil,” kata Moekti.

Selain itu, pertumbuhan sektor manufaktur diyakini akan menggerakkan tenaga kerja secara masif. Dalam jangka panjang, upaya ini tentunya akan berimbas positif pada pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Data BPS menunjukkan pertumbuhan industri manufaktur hingga kuartal III 2018 hanya mencapai 4,33 persen. Angka itu berada di bawah pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan yang mencapai 5,17 persen.

 

 

 

 

 

 

Sumber : cnnindonesia.com
Gambar : Industry.co.id

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *