Masa Depan Perang Dagang Masih Kelabu, Harga Emas Stagnan

Nasib masa depan perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan China yang masih belum jelas membuat pergerakan harga emas cenderung terbatas. Di satu sisi, masih ada harapan kesepakatan dagang tercipta. Namun di sisi lain investor masih berjaga-jaga kalau sampai perang dagang kembali tereskalasi.

Pada perdagangan Rabu (15/5/2019) pukul 09:15 WIB, harga emas kontrak pengiriman Juni di bursa New York Commodity Exchange (COMEX) terkoreksi 0,18% menjadi US$ 1.298.,3/troy ounce. Sedangkan harga emas di pasar spot naik terbatas 0,02% ke level US$ 1.297,4/troy ounce.

Setelah sempat membuncah pada hari Senin (13/5/2019), sentimen perang dagang sudah semakin surut.

Bahkan harapan damai dagang ternyata belum benar-benar hilang sama sekali.

Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump mengatakan bahwa dialog dengan China masih terus berlangsung.

“Kami terus berdialog. Selalu berlanjut,” ujar Trump, mengutip Reuters. Dirinya juga telah mengumumkan rencana pertemuannya dengan Presiden China, Xi Jinping di sela-sela konferensi negara G20 pada Juli mendatang..

Sebelumnya Trump mengatakan bahwa pihaknya akan membuat kesepakatan dengan China pada waktu yang tepat, dan itu bisa terjadi lebih cepat dari yang dibayangkan.

Setidaknya ucapan Trump dapat membuat risk appetite investor agak naik.

Namun bila tidak berlangsung sesuai harapan, bisa-bisa perang dagang bisa diperparah. Pasalnya Trump perang berkata akan memberlakukan tarif baru sebesar 25% pada produk-produk China yang senilai US$ 325 miliar. Sebelumnya produk-produk tersebut belum dikenakan bea masuk.

Sebagai informasi, pada Jumat (10/5/2019) pekan lalu, AS secara resmi telah meningkatkan bea masuk produk asal China yang senilai US$ 200 miliar menjadi 25% (dari yang semula 10%).

Membalas, China pada hari Senin (13/5/2019) mengumumkan kenaikan tarif produk AS senilai US$ 60 miliar pada kisaran 5%-25% yang akan mulai berlaku pada Juni nanti. Produk-produk utama sasaran China adalah produk pertanian.

Bila perang dagang tambah diperparah, maka sekali lagi rantai pasokan global akan mendapat hambatan. Perlambatan ekonomi dunia sulit untuk dihentikan , bahkan bisa makin diperlambat.

Alhasil investor masih agak ragu-ragu untuk masuk ke instrumen berisiko seperti saham. Risiko koreksi nilai aset masih tinggi. Alih-alih untung, bila salah langkah yang ada malah buntung.

Dalam kesempatan itu, emas masih punya tempat di hati para pelaku pasar, mengingat sifatnya yang sebagai pelindung nilai (hedging). Maklum, pergerakan nilai emas relatif stabil ketimbang instrumen berisiko lainnya.

 

 

 

 

 

 

Sumber : cnbcindonesia.com
Gambar : Emas Batangan

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *