Bos BoJ Tidak Minat Ikuti The Fed untuk Kurangi Stimulus Besar

Gubernur Bank of Japan (BoJ) Haruhiko Kuroda mengaku tidak berminat mengarahkan bank sentral Jepang untuk segera keluar dari program stimulus moneter besar-besaran. Pernyataan itu keluar setelah Federal Reserve AS memutuskan untuk mengurangi pembelian aset besar-besaran.

Mengutip Channel News Asia, Jumat, 5 November 2021, Kuroda, berbicara kepada wartawan setelah pertemuan dengan Perdana Menteri Jepang Fumio Kishida, mengatakan institusinya menghadapi situasi yang berbeda mengenai pandemi virus korona dibandingkan dengan bank sentral di barat.

The Fed, seperti yang diperkirakan secara luas, mengumumkan untuk mulai mengurangi USD120 miliar dalam pembelian bulanan treasuries dan sekuritas yang didukung hipotek dengan kecepatan USD15 miliar per bulan, dengan rencana untuk mengakhiri pembelian sama sekali pada pertengahan 2022.

“Kami melanjutkan pelonggaran moneter untuk mencapai target stabilitas harga (inflasi) dua persen. Selain itu, kami juga melakukan program khusus untuk mengatasi penyebaran infeksi virus korona,” kata Kuroda.

Pertemuan rutin

Pertemuan itu adalah pertemuan rutin pertama Kuroda dengan perdana menteri sejak Kishida menjabat bulan lalu. Mereka membahas situasi ekonomi dan pasar keuangan di dalam dan di luar Jepang, setelah pertemuan dengan menteri keuangan dan ekonomi Jepang, dengan ketiganya menegaskan kembali komitmen BoJ untuk mencapai target inflasi dua persen.

Adapun infeksi virus korona baru dengan cepat menurun di Jepang, lanjut Kuroda, tetapi bank sentral akan terus mendukung pendanaan untuk lembaga keuangan hingga Maret mendatang. “Kami akan melanjutkan kontrol kurva imbal hasil (YCC) bahkan setelah infeksi virus korona terkendali. Situasi di barat berbeda dari Jepang,” tegasnya.

Di bawah kebijakan YCC, BoJ memandu suku bunga jangka pendek di minus 0,1 persen dan imbal hasil obligasi 10-tahun sekitar nol persen. Dengan inflasi konsumen inti yang melayang di sekitar nol, bank sentral juga membeli obligasi pemerintah dan aset berisiko untuk mencapai target harga dua persen yang sulit dicapai.

 

 

 

 

Sumber : medcom.id
Gambar : MSN

BAGIKAN BERITA INI

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *