Imbal Hasil Obligasi AS Turun, Rupiah Menguat ke Rp14.072

Nilai tukar rupiah berada di posisi Rp14.072 per dolar AS pada perdagangan pasar spot Rabu (24/2) pagi. Posisi tersebut menguat 0,13 persen dibandingkan perdagangan Selasa (23/2) sore di level Rp14.092 per dolar AS.

Pagi ini, mayoritas mata uang di kawasan Asia terpantau menguat terhadap dolar AS. Dolar Singapura menguat 0,14 persen, won Korea Selatan menguat 0,14 persen, peso Filipina menguat 0,16 persen, dan rupee India menguat 0,05 persen.

Kemudian, yuan China menguat 0,16 persen, ringgit Malaysia menguat 0,10 persen dan bath Thailand terpantau menguat 0,01 persen. Sebaliknya yen Jepang melemah 0,15 persen dan dolar Taiwan melemah 0,01 persen.

Sementara itu, mata uang di negara maju bergerak melemah terhadap dolar AS. Poundsterling Inggris melemah 0,51 persen, dolar Australia melemah 0,39 persen dan franc Swiss melemah 0,06 persen. Hanya dolar Kanada yang terpantau menguat 0,17 persen.

Kepala Riset Monex Investindo Ariston Tjendra mengatakan rupiah berpotensi kembali menguat terhadap dolar AS seiring dengan terkoreksinya tingkat imbal hasil obligasi pemerintah AS.

“Pernyataan Gubernur The Fed Jerome Powell semalam bahwa target inflasi masih jauh telah menurunkan kekhawatiran pasar terhadap potensi kenaikan inflasi di AS yang mendorong penguatan yield obligasi,” ujarnya kepada CNNIndonesia.com.

Di samping itu, stimulus fiskal besar AS yang akan dirilis di pertengahan Maret juga membantu penguatan nilai tukar negara-negara berkembang terhadap dolar AS.

Selain itu, tren penurunan kasus baru covid-19 dan kemajuan program vaksinasi di dunia maupun di Indonesia juga meningkatkan optimisme pasar. “Potensi pergerakan rupiah hari ini di kisaran Rp14.050-14.120 per dolar AS,” pungkasnya.

 

 

 

 

 

 

Sumber : cnnindonesia.com
Gambar : Nusa Daily

BAGIKAN BERITA INI

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *