Hingga Akhir Tahun Emas Bakal Mentok di US$ 2.000/oz

Dolar AS yang menguat masih menekan harga emas. Di awal pekan ini Senin (28/9/2020) harga emas cenderung flat dan tak beranjak dari level penutupannya pekan lalu.

Pada 08.50 WIB, harga emas dunia di pasar spot dibanderol di US$ 1.860/troy ons atau terkoreksi sangat tipis 0,02%. Penguatan dolar AS yang tercermin dari kenaikan indeks dolar ke posisi tertinggi dalam dua bulan terakhir telah membuat harga emas terkoreksi.

Dolar AS dan harga emas cenderung bergerak berlawanan arah atau dengan kata lain berkorelasi negatif. Emas merupakan salah satu komoditas yang dibanderol dalam dolar AS, sehingga ketika mata uang Paman Sam itu menguat, harga emas cenderung menjadi lebih mahal bagi pemegang mata uang lain.

Setelah mencapai level tertingginya sepanjang masa pada 6 Agustus lalu di 2.063/troy ons, logam kuning itu diterpa aksi ambil untung (profit taking). Setelah itu harga emas cenderung bergerak sideways.

Namun pekan lalu harga logam mulia emas ambrol signifikan dan melorot ke bawah level support kuatnya di US$ 1.900/troy ons. Penguatan dolar AS masih menjadi faktor utama anjloknya harga emas.

Ketidakjelasan seputar stimulus lanjutan dari pemerintah AS juga ikut menekan harga emas. Seperti diketahui, harga emas bisa meroket sepanjang tahun ini karena adanya pandemi virus corona yang meluluhlantakkan perekonomian global.

Untuk menahan resesi ekonomi, pemerintah dan bank sentral global menggelontorkan stimulus besar-besaran sehingga membuat pasokan uang membludak. Hal ini dikhawatirkan bakal memicu terjadinya inflasi yang tinggi di masa depan.

Inflasi mengindikasikan adanya penurunan atau depresiasi nilai mata uang, oleh karena itu banyak orang yang beralih ke emas sebagai aset safe haven dan lindung nilai (hedging) dari kemungkinan fenomena inflasi yang tinggi di masa mendatang.

AS kini juga semakin dekat dengan pemilunya. Besok akan menjadi hari pertama debat pemilu antara petahana Donald Trump dengan pesaingnya dari partai Demokrat Joe Biden. Tentu ini akan menjadi momen yang disorot oleh publik global termasuk investor.

Meski harga emas terus tertekan sejak Agustus, analis dari lembaga think tank asal Inggris Capital Economics, Samuel Burman memperkirakan harga emas bakal sentuh level US$ 2.000/troy ons lagi akhir tahun.

“Karena emas tak memberikan imbal hasil, maka daya tarik aset ini akan sangat tergantung pada imbal hasil riil dari aset safe haven lain seperti obligasi pemerintah AS. Imbal hasil riil telah anjlok beberapa bulan terakhir sebagai akibat dari penurunan imbal hasil nominal dan kenaikan ekspektasi inflasi” katanya dalam sebuah laporan.

“Kami berpikir bahwa harga emas bakal naik ke atas sampai akhir tahun 2021 seiring dengan penurunan lebih dalam imbal hasil riil yang bakal memberatkan nilai dolar AS” tambahnya, mengutip Kitco News.

The Fed selaku bank sentral AS memberikan sinyal bakal menahan suku bunga rendah mendekati nol persen sampai 2023. Hal ini membuat Capital Economics memperkirakan imbal hasil nominal obligasi pemerintah AS bertenor 10 tahun berada di level 50 basis poin.

“Anjloknya imbal hasil ini dibarengi dengan adanya ekspektasi inflasi yang lebih tinggi seiring dengan membaiknya ekonomi AS berarti imbal hasil riilnya akan turun” kata Burman. Lebih lanjut, Burman memproyeksikan harga emas bakal ke US$ 2.100/troy ons akhir tahun depan.

 

 

 

 

Sumber : cnnindonesia.com
Gambar : Pikiran Rakyat

BAGIKAN BERITA INI

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *