Emas Belum Bisa Move On, Ternyata Ini Penyebabnya

Harga emas dunia terkoreksi pagi ini pada perdagangan pasar spot seiring dengan penguatan dolar Amerika Serikat (AS) di tengah makin merebaknya wabah corona (COVID-19).

Harga emas dunia di pasar spot berada di level US$ 1.614,8/troy ons pada Selasa (31/3/2020). Harga emas turun 0,47% dari posisi penutupan kemarin. Menurunnya harga emas terjadi seiring dengan penguatan dolar AS.

Penguatan dolar AS tercermin dari meningkatnya indeks dolar. Pada pagi ini indeks dolar yang mengukur keperkasaan dolar di hadapan enam mata uang lain menguat 0,22%. Penguatan dolar sebagai mata uang emas ditransaksikan membuat harga logam mulia tersebut yang sudah mahal jadi semakin mahal.

Pagi ini China melaporkan angka Purchasing Managers Index (PMI) manufaktur China yang melampaui ekspektasi pasar dan mencatatkan ekspansi di angka 52. Walau ekonomi China kembali bersemi karena sudah menang melawan wabah, ekonomi negara lain justru masih berjuang melawan pandemi.

Kebijakan lockdown yang diambil oleh berbagai negara menjadi ancaman bagi perekonomian global. Ekonomi global terancam di ambang resesi. The Economist Intelligence Unit (EIU) bahkan meramal pertumbuhan ekonomi global tahun ini terkontraksi 2,2%.

Ketakutan akan resesi global kian nyata akibat wabah ini. Hal ini memicu reaksi panic selling yang membuat pasar saham global ambruk beberapa pekan terakhir, sebelum menguat pekan lalu akibat combo effect Trump & Jay Powel yang memberikan stimulus jumbo untuk perekonomian AS.

Kala ekonomi sedang tidak kondusif, keberanian investor mengambil risiko jadi menciut. Alhasil aset safe haven seperti emas jadi diburu dan membuat harganya naik. Namun pada periode krisis seperti ini pergerakan harga emas juga dipengaruhi oleh pergerakan harga saham.

Jika di pasar saham terjadi aksi jual secara masif lagi, bukan berarti emas masih akan tetap kokoh bertengger di level tertingginya. Bisa-bisa emas dilikuidiasi lagi untuk menambal margin calls dan menutup kerugian pada investasi lain.

Mengacu pada data kompilasi John Hopkins University CSSE, sampai hari ini sudah ada 784.314 kasus kumulatif orang yang terinfeksi virus corona. Sebanyak 37.686 orang dinyatakan meninggal dunia.

Pasar masih dipenuhi dengan adanya ketidakpastian. Musuh tak kasat mata masih terus mengintai dan siap menyerang kesehatan dan perekonomian global. Kilau emas belum bisa sekinclong dulu lagi dan bisa kembali melorot kapan saja ketika kebutuhan akan likuiditas tinggi dan sentimen kembali risk off. Lagi pula wabah corona masih terus menelan korban sampai saat ini.

 

 

 

 

 

Sumber : cnbcindonesia.com
Gambar : Info Rajawali

 

 

 

 

 

 

[social_warfare buttons=”Facebook,Pinterest,LinkedIn,Twitter,Total”]

BAGIKAN BERITA INI

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *