Kekhawatiran Penurunan Permintaan Tekan Harga Minyak

Harga minyak dunia tergelincir sepanjang pekan kemarin. Pelemahan dipicu oleh kekhawatiran terhadap perlambatan pertumbuhan perekonomian global. Kekhawatiran tersebut menimbulkan ketakutan pasar bahwa ke depan permintaan minyak global akan melemah.

Dilansir dari Reuters, Senin (22/7), harga minyak mentah berjangka Brent pada perdagangan Jumat (19/7) lalu ditutup di level US$62,47 per barel atau melemah 5,5 persen secara mingguan. Pelemahan juga terjadi pada harga minyak mentah berjangka Amerika Serikat (AS) West Texas Intermediate (WTI) sebesar 7 persen menjadi US$55,63 per barel.

Pelemahan mingguan kedua harga acuan merupakan yang tertajam sejak akhir Mei 2019. Proyeksi harga minyak jangka panjang cenderung melemah.

Pada Jumat (19/7) lalu, Kepala Badan Energi Internasional (IEA) Fatih Birol menyatakan tidak melihat kemungkinan kenaikan harga minyak secara signifikan karena permintaan tengah melambat. Selain itu pasar global juga kebanjiran pasokan.

Dalam wawancara dengan Reuters pada Kamis (18/7) lalu, Birol juga mengungkapkan IEA memangkas proyeksi pertumbuhan permintaan minyak 2019 menjadi 1,1 juga barel per hari (bph) dari sebelumnya 1,2 juta barel akibat perlambatan ekonomi global di tengah perang dagang AS – China.

“Kekhawatiran terhadap kondisi makroekonomi, ketidakpastian pembahasan perdagangan dan meningkatnya pasokan minyak dari AS terus membebani sentimen,” ujar Kepala Komoditas ING Warren Patterson.

Sementara itu, harga minyak masih mendapatkan dorongan dari panasnya tensi di Timur Tengah. Pada perdagangan Jumat (19/7) lalu, harga minyak mendapatkan dorongan setelah Garda Revolusi Iran menyatakan telah menangkap kapal tanker minyak berbendera Inggris di kawasan Teluk.

Penangkapan tersebut dilakukan setelah Inggris menyandera kapal Iran di awal bulan ini. Tak ayal, tensi di kawasan Teluk memanas oleh gejolak di rute penting pengiriman kapal minyak internasional itu.

Data pelacakan Refinitiv juga melacak kapal tanker minyak kedua yang dioperasikan Inggris dan berbendera Liberia mengarah ke utara menuju pesisir Iran setelah melewati Selat Hormuz ke Teluk. Pimpinan Ritterbusch & Associates Jim Ritterbusch menilai peluang naik turunnya harga minyak masih besar.

Pasalnya, harga mendapatkan dorongan dari memanasnya tensi AS dan Iran namun juga mendapatkan tekanan dari kekhawatiran terhadap permintaan minyak global. Kondisi yang ada meningkatkan risiko geopolitik ke pasar minyak.

Pada Jumat (19/7) lalu, Pejabat Senior Gedung Putih menyatakan AS akan menghancurkan pesawat tanpa awak (drone) Iran yang terbang terlalu dekat dengan kapalnya. Sehari sebelumnya, AS menyatakan Kapal Angkatan Laut Iran telah menghancurkan drone Iran di Selat Hormuz setelah pesawat tanpa awak tersebut mengancam kapal.

Namun, Iran menyatakan belum mendapatkan informasi terkait hilangnya sebuah drone. Pekan lalu, harga juga mendapatkan dorongan dari sinyal Bank Sentral AS The Federal Reserves akan memangkas suku bunga acuannya secara agresif demi mendorong perekonomian.

Lebih lanjut, perusahaan energi AS pekan ini memangkas juga rig pengeboran minyak untuk ketiga kalinya selama tiga pekan berturut-turut. Hal ini sejalan dengan rencana perusahaan untuk memangkas belanja.

Perusahaan layanan energi Baker Hughes mencatat perusahaan minyak AS memangkas 5 rig menjadi 779 rig pada pekan yang berakhir 19 Juli 2019, terendah sejak Februari 2018.

Data Komisi Perdagangan Berjangka Komoditi AS pada Jumat (19/7) lalu juga mencatat pengelola investasi dan manajer keuangan mengerek taruhannya pada posisi harga minyak mentah AS akan naik. Kenaikan taruhan tersebut terjadi selama dua pekan berturut-turut.

 

 

 

 

 

Sumber : cnnindonesiacom
Gambar : Klikanggaran

 

 

 

 

[social_warfare buttons=”Facebook,Pinterest,LinkedIn,Twitter,Total”]

 

BAGIKAN BERITA INI

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *