Dolar AS Keok Tertahan The Fed, Rupiah Melaju ke Rp14.105

Nilai tukar rupiah berada di posisi Rp14.105 per dolar AS pada pembukaan perdagangan pasar spot Kamis (21/3) pagi. Dengan demikian, rupiah tercatat menguat 0,6 persen dibandingkan penutupan pada Rabu (20/3) kemarin, yakni Rp14.190 per dolar AS.

Pagi hari ini, seluruh mata uang utama Asia terlihat menguat terhadap dolar AS. Won Korea Selatan menguat 0,52 persen. Disusul oleh ringgit Malaysia sebesar 0,24 persen, baht Thailand sebesar 0,07 persen, peso Filipina sebesar 0,1 persen, dan dolar Singapura sebesar 0,06 persen.

Yen Jepang dan dolar Hong Kong juga menguat masing-masing 0,01 persen. Begitu pun dengan mata uang negara maju, seperti dolar Australia yang menguat 0,69 persen, euro sebesar 0,17 persen, dan poundsterling Inggris sebesar 0,15 persen.

Analis Monex Investindo Faisyal menuturkan penguatan rupiah utamanya masih disebabkan oleh keputusan bank sentral AS The Fed untuk menahan suku bunga acuannya di kisaran 2,25 persen hingga 2,50 persen.

Keputusan itu diambil karena Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) melihat ekspansi berkelanjutan dari kegiatan ekonomi, kondisi pasar tenaga kerja yang kuat, dan inflasi mendekati target, yaitu 2 persen.

Kemudian, sentimen kedua muncul dari perkiraan harga minyak yang semakin melandai karena perkiraan permintaannya turun setelah beberapa negara memangkas proyeksi pertumbuhan ekonominya di tahun ini. Meski memang, harga minyak mentah AS West Texas Intermediate (WTI) naik US$0,8 atau 1,36 persen menjadi US$59,83 per barel.

“Potensi penguatan rupiah hari ini akan terlihat jika pengumuman Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI) juga menunjukkan optimisme ekonomi Indonesia,” papar Faisyal kepada CNNIndonesia.com, Kamis (21/3).

Sementara itu, Analis Asia Tradepoint Future Deddy Yusuf Siregar mengatakan suku bunga acuan AS yang tak bergerak ini sudah diantisipasi pelaku pasar sejak kemarin.

Makanya, salah satu penguatan rupiah sejak beberapa hari ini dipicu oleh masuknya dana asing yang mencari keuntungan dalam jangka pendek, atau kerap disebut hot money.

Namun, ia mengingatkan bahwa setelah sentimen The Fed, pelaku pasar mulai mengalihkan atensinya ke negosiasi perang dagang antara AS dan China. Apalagi, Presiden AS Donald Trump masih kukuh ingin memberlakukan bea masuk bagi China setelah perjanjian dagang diteken.

Sebelumnya, China mendesak AS untuk segera menghapus bea masuk impor negara tirai bambu itu. Sentimen ini tentu saja bisa jadi sentimen yang negatif bagi negara berkembang, termasuk rupiah.

“Tapi saya melihat hingga pekan depan dengan keputusan The Fed yang cenderung dovish, rupiah masih bisa menguat. Untuk hari ini, rentang rupiah diperkirakan di kisaran Rp14.140 hingga Rp14.240 per dolar AS,” tandas Deddy.

 

 

Sumber : cnnindonesia.com
Gambar : Kompasiana.com

 

 

 

 

[social_warfare buttons=”Facebook,Pinterest,LinkedIn,Twitter,Total”]

BAGIKAN BERITA INI

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *