Tangkap Sinyal Pasar Saham Global, Harga Minyak Merosot

Harga minyak mentah memperpanjang penurunannya pada perdagangan Senin (14/1/2019), terbebani kekhawatiran seputar pertumbuhan ekonomi pascarilis data ekonomi yang mengecewakan dari China.

Berdasarkan data Bloomberg, harga minyak West Texas Intermediate (WTI) untuk kontrak Februari ditutup merosot US$1,08 di level US$50,51 per barel di New York Mercantile Exchange.

Adapun harga minyak Brent untuk pengiriman Maret 2019 berakhir anjlok US$1,49 di level US$58,99 per barel di ICE Futures Europe exchange di London, setelah mampu naik 6% pekan lalu. Minyak acuan global ini diperdagangkan premium US$8,19 per barel terhadap minyak WTI untuk bulan yang sama.

Penurunan ini mencerminkan penurunan ekuitas di seluruh dunia setelah China mencatatkan angka impor dan ekspor terburuk sejak 2016 dan penutupan sebagian layanan pemerintah (partial government shutdown) di Amerika Serikat terus berlanjut.

Berdasarkan data Administrasi Bea Cukai China, ekspor dalam dolar turun 4,4% pada Desember 2018 dari bulan yang sama tahun sebelumnya, sedangkan impor turun 7,6% pada periode yang sama.

Sementara itu, pasar saham di seluruh dunia melemah pada perdagangan Senin. Saham-saham utilitas, kesehatan dan teknologi mendorong indeks S&P 500 lebih rendah.

Friksi perdagangan antara dua AS dan China masih memuncaki daftar kekhawatiran investor mengingat ancamannya terhadap pertumbuhan global.

China berupaya untuk menyelesaikan konflik perdagangannya dengan AS tahun ini, menurut Menteri Perdagangan Zhong Shan dalam sebuah wawancara setelah Tiongkok berdiskusi dengan AS pekan lalu. Wakil Perdana Menteri China Liu He direncanakan akan mengunjungi Washington untuk pembicaraan perdagangan lebih lanjut akhir bulan ini.

“Minyak mengawasi pasar lain dan mengikutinya. Kita melihat data China yang lemah dan semuanya berubah,” kata Phil Flynn, analis pasar senior di Price Futures Group Inc., dilansir dari Bloomberg.

Minyak mentah memasuki kondisi pasar bullish pekan lalu setelah terkulai pada akhir 2018 akibat kekhawatiran kelebihan pasokan di seluruh dunia.

Menteri Energi Saudi Khalid Al-Falih pada Minggu (13/1) mengatakan koalisi OPEC+ (negara-negara anggota OPEC dan sekutunya) dari eksportir minyak utama berada di jalur untuk memperkecil pasokan dan akan berbuat lebih banyak jika diperlukan.

Namun harga masih turun lebih dari 30% dari level tertingginya dalam empat tahun yang mampu dibukukan pada Oktober 2018, bahkan setelah reli baru-baru ini. Meski pemimpin Eni SpA dan menteri perminyakan Oman melihat rebound baru-baru ini akan bertahan, masih ada keraguan seputar permintaan.

“Beberapa rintangan memberi bayangan tentang apakah kekuatan harga saat ini dapat dipertahankan,” kata Stephen Brennock, seorang analis di PVM Oil Associates Ltd. di London.

 

 

 

 

Sumber : Bisnis.com
Gambar : CNN Indonesia

 

 

 

[social_warfare buttons=”Facebook,Pinterest,LinkedIn,Twitter,Total”]

BAGIKAN BERITA INI

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *