Sri Mulyani Akui Utang Jatuh Tempo Tahun Depan Lebih Berat

Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani menyebut jumlah utang jatuh tempo pada 2019 mendatang mencapai Rp409 triliun. Ia mengakui angka itu cukup tinggi bagi dompet negara. “Tahun depan agak berat karena banyak utang masa lalu yang jatuh tempo karena utangnya cukup tinggi,” ungkap Sri Mulyani akhir pekan lalu. Berdasarkan data pemerintah, jumlah utang jatuh tempo pada 2019 tercatat lebih tinggi 6,51 persen dibandingkan utang yang harus dibayar pemerintah pada tahun ini yang sekitar Rp384 triliun.

Kendati demikian, Sri Mulyani memastikan pemerintah akan menjaga rasio utang terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) di bawah 30 persen. Bahkan, Sri Mulyani berencana membuat rasio utang terhadap PDB di bawah 29,8 persen. Merujuk pada Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2019, pembiayaan utang pemerintah turun menjadi Rp359,3 triliun dari APBN 2018 yang mencapai Rp387,4 triliun. Turunnya pembiayaan utang ini dilakukan atas pertimbangan tingkat defisit yang juga menurun dalam RAPBN 2019.

Defisit pada RAPBN 2019 mengecil menjadi Rp297,2 triliun atau 1,84 persen terhadap PDB, sedangkan defisit pada APBN 2018 mencapai 2,12 persen terhadap PDB. “Karena defisit turun, kami juga menyiapkan perencanaan dalam melakukan strategi pembiayaan yang lebih hati-hati dengan jumlah yang lebih sedikit,” papar Sri Mulyani. Bila dirinci, pembiayaan utang dalam RAPBN 2019 terdiri dari penerbitan Surat Berharga Negara (SBN) neto sebesar Rp386,2 triliun dan pinjaman neto sebesar Rp26,9 triliun. Adapun, pembiayaan utang dalam APBN tahun ini berasal dari SBN neto sebesar Rp388 triliun dan pinjaman neto Rp600 miliar.

 

 

 

 

Sumber Berita : cnnindonesia.com
Sumber foto : Tribunnews.com

 

 

 

[social_warfare buttons = “Facebook, Pinterest, LinkedIn, Twitter, Total”]

BAGIKAN BERITA INI

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *