Oposisi Turki Umumkan Maju Pilpres Juni, Siap Kalahkan Erdogan

Pemimpin oposisi Turki, Kemal Kilicdaroglu, mengumumkan bakal maju dalam pemilihan presiden (pilpres) yang bakal digelar sekitar Juni mendatang.

Kilicdaroglu saat ini menjadi satu-satunya calon presiden yang bakal bersaing dengan petahana Presiden Recep Tayyip Erdogan. Berdasarkan jadwal, pemilu Turki 2023 bakal digelar pada Juni mendatang. Namun, Erdogan memberi sinyal bahwa pemilu bisa jadi dilakukan lebih cepat yakni pada 14 Mei.

“Hari ini, kita sangat dekat untuk menggulingkan tahta para penindas,” kata Kilicdaroglu kepada partainya dalam pidato parlemen seperti dikutip AFP.

“Bersama-sama, kita akan mengakhiri kegilaan ini. Saya berharap, teman-teman. Saya sangat berharap,” paparnya menambahkan.

Ketua Partai Republik Rakyat (Republican People’s Party/CHP) yang berhaluan kiri itu akhirnya mencalonkan diri sebagai presiden Turki setelah koalisi oposisi di parlemen Turki terus berdebat mengenai calon penantang Erdogan di pemilu nanti.

Menanggapi deklarasi Kilicdaroglu, sejumlah pengamat menilai ia berpotensi meraih banyak suara dan memiliki sejumlah hal yang tak dilakukan Erdogan selama ini.

Pengamat dari Institut Timur Tengah kajian Turki, Gonul Tol, mengatakan Kilicdaroglu salah satunya memiliki sikap yang rendah hati dan sopan.

“Kemal Kilicdaroglu adalah segalanya, Presiden Recep Tayyip Erdogan tidak,” ujar Tol, seperti dikutip CNN.

Erdogan, lanjut dia, ialah politikus sayap kanan dan populis yang terus membongkar sistem pemerintahan dan hukum di Turki agar dapat menjadi diktator paling berkuasa atau pemimpin “one-man rule.”

Sementara itu, Tol menganggap Kilicdaroglu merupakan politikus yang ingin membangun kembali rezim yang bertolak belakang dengan Erdogan dengan desentralisasi dan membangun pemerintahan berbasis konsultasi dan kompromi.

Senada, pengamat yang fokus soal kajian Turki dari Universitas Oxford, Mehmet Karli, menilai meski ada kericuhan di blok oposisi, namun mereka memiliki tujuan yang jelas dan sama: meruntuhkan rezim Erdogan yang telah berlangsung dua dekade.

Oposisi Turki, lanjut dia, berusaha bergerak menuju sistem parlementer yang lebih inklusif dan presiden hanya punya sedikit peran.

“Tak ada lagi sentralisasi kekuasaan di tangan presiden. Kepresidenan akan menjadi simbolis dan Turki bakal ke demokrasi parlementer seperti 1921” ujar Karli, seperti dikutip CNN.

Antitesis Erdogan

Menurut Karli, Kilicdaroglu adalah identitas Turki yang lebih plural.

Lawan Erdogan itu juga diprediksi memiliki pendekatan yang lebih lembut dan lebih bisa terbaca oleh negara Barat. Kilicdaroglu dinilai lebih demokratis karena tak akan memerintah dengan keputusan sepihak, tetapi melalui institusi.

Kebijakan luar negeri Erdogan, sementara itu kerap digambarkan sebagai aksi yang agresif dan personal.

Sementara itu, Kilicdaroglu juga dianggap punya pendekatan yang bisa berjalan dengan koalisi sebagai kekuatan potensial, demikian menurut Profesor Ilmu Politik dari Universitas Koc di Istanbul, Murat Somer.

Ia bahkan menilai pemilu mendatang bakal menjadi penentuan soal Turki yang lebih demokratis atau otokrasi.

“Ini akan menjadi referendum antara demokrasi dan otokrasi, bukan pemilihan antara dua kandidat. Ini akan menjadi cerita epik,” ucap Somer.

Namun, berdasarkan hasil jajak pendapat popularitas Erdogan masih tinggi dan tak menurun signifikan. Padahal, Erdogan mendapat kritik terkait penanganan gempa dahsyat di negara itu pada Februari lalu.

“Setelah gempa bumi, popularitas Erdogan menurun hanya satu poin, sementara popularitas Kilicdaroglu menurun lima poin,” ungkap ketua lembaga survei Metropoll, Ozer Sencar.

 

 

 

 

 

Sumber : cnnindonesia.com
Gambar : CNN Indonesia

BAGIKAN BERITA INI

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *