IMF Disebut Tekan Staf Bank Dunia soal Peringkat EoDB China

Hasil investigasi firma hukum WilmerHale yang ditugasi menyelidiki dugaan manipulasi laporan peringkat kemudahan berusaha (Ease of Doing Business/EoDB) menemukan bahwa Kepala IMF Kristalina Georgieva menekan tim penyusun laporan EoDB untuk mengerek peringkat China pada 2017 lalu.

Menurut WilmerHale, hal ini dilakukan Kristalina dengan meminta tim mengubah metodologi laporan, sehingga membuat perubahan spesifik.

Permintaan ini muncul setelah pejabat Pemerintahan China berulang kali menyatakan kekecewaan atas peringkat negeri tirai bambu di masa kepemimpinan Jim Yong Kim selaku presiden Bank Dunia sebelumnya.

Melansir CNN Business, Senin (20/9), Georgieva disebut terlibat langsung dalam pengubahan laporan. Ia bahkan ‘menghukum’ direktur yang saat itu mengelola laporan soal hubungan bank dengan China.

Tekanan ini akhirnya membuat tim penyusun laporan mengerek peringkat China sebanyak tujuh peringkat ke posisi 78 pada 2018. Hasil penyelidikan menemukan kenaikan peringkat China diberikan terhadap isu Undang-Undang Keamanan Transaksi yang dikeluarkan pemerintah setempat.

Temuan lain menyatakan asisten Kim juga mengarahkan tim survei untuk melakukan simulasi pada peringkat China bila data Taiwan dan Hong Kong ikut dimasukkan dalam perhitungan peringkat.

Lebih lanjut, penyelidikan atas laporan EoDB ini disebut WilmerHale muncul dari dugaan Kim secara langsung. Kendati demikian, Kim belum memberi tanggapan kepada CNN atas dugaan manipulasi laporan EoDB itu.

Kim sendiri kini tidak lagi menjabat di Bank Dunia. Ia mengundurkan diri dari jabatan bos lembaga ekonomi dan keuangan internasional itu pada Januari 2019.

Setelah Kim pergi, Georgieva menduduki sementara jabatan Presiden Bank Dunia sampai David Malpass ditunjuk menjadi nakhoda baru pada April 2019.

Sementara Georgieva membantah telah memanipulasi laporan EoDB. “Saya secara fundamental tidak setuju dengan temuan dan interpretasi investigasi penyimpangan data terkait peran saya dalam laporan doing business Bank Dunia 2018,” ungkap Georgieva dalam sebuah pernyataan.

Sedangkan Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China Zhao Lijian meminta publik mengikuti perkembangan dari Bank Dunia.

“Georgieva telah mengeluarkan pernyataan di situs resmi IMF. Saya akan merujuk ke otoritas terkait untuk informasi lebih lanjut. Kami juga telah mencatat bahwa Bank Dunia baru-baru ini mengeluarkan pernyataan tentang penangguhan laporan EoDB. Pemerintah China sangat mementingkan upaya EoDB untuk meningkatkan lingkungan bisnis, yang terbukti bagi semua,” ungkap Lijian.

“Kami berharap Bank Dunia akan mengambil fakta sebagai dasar, aturan sebagai kriteria, mengikuti prinsip-prinsip profesional, obyektif, adil dan transparan, untuk melakukan penyelidikan menyeluruh terhadap isu-isu yang relevan sesuai dengan prosedur tinjauan internal, untuk lebih menjaga profesionalisme dan kredibilitas laporan EoDB dan kredibilitas Bank Dunia sendiri dan reputasi negara-negara anggotanya,” sambungnya.

Di sisi lain, WilmerHale juga menemukan kejanggalan atas data Arab Saudi di laporan EoDB 2020. Data tersebut membaik usai pemerintah Arab Saudi mengungkap kekecewaan atas peringkat mereka di laporan EoDB 2019, khususnya terkait keberhasilan reformasi pemerintah.

Hal ini selanjutnya ditindaklanjuti Simeon Djankov, salah satu inisiator laporan EoDB untuk mengubah data. Hasil akhir perubahannya, Arab Saudi menggantikan Yordania di posisi atas pada kategori tersebut.

Namun, Djankov mengatakan permintaan ubah data ini datang dari dua pejabat senior Bank Dunia, salah satunya dari pihak yang sebelumnya menjabat sebagai asisten Kim yang juga diduga terlibat pada perubahan data China pada laporan EoDB 2018.

Kendati begitu, belum ada tanggapan dari Djankov maupun Kedutaan Besar Arab Saudi di Washington D.C dan Kementerian Luar Negeri Arab Saudi kepada CNN terkait temuan ini.

 

 

 

 

 

Sumber : cnnindonesia.com
Gambar : CNN Indonesia

BAGIKAN BERITA INI

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *