Indonesia Masuk Kategori Mudah Terbakar, BNPB Pantau Daftar Titik Api

Titik panas atau hotspot masih terdeteksi di beberapa wilayah Indonesia. Pelaksana Tugas Pusdatinmas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Agus Wibowo mengatakan, asap masih terdeteksi di Sumatera dan Kalimantan.

“Tapi tidak ada transboundary haze atau asap yang melintas ke negeri tetangga, Malaysia atau Singapura,” kata Agus dalam keterangannya, Senin (12/8/2019) siang.

Hasil pengamatan BNPB hingga Senin (12/8/2019) pukul 10.00 WIB, menunjukkan titik panas atau hotspot kategori sedang dan tinggi terpantau di wilayah berikut:

Riau terpantau 29 titik (berkurang 97 titik dibanding kemarin) Jambi terpantau 3 titik (bertambah 1 titik dibanding kemarin) Sumatera Selatan terpantau 19 titik (bertambah 6 titik dibanding kemarin)
Bangka Belitung terpantau 14 titik (bertambah 10 titik dibanding kemarin)
Kalimantan Barat terpantau 605 titik (bertambah 72 titik dibanding kemarin)
Kalimantan Tengah terpantau 163 titik (bertambah 4 titik dibanding kemarin)
Kalimantan Selatan terpantau 14 titik (berkurang 27 titik dibanding kemarin)
Kalimantan Timur terpantau 20 titik (berkurang tiga titik dibanding kemarin)
Kalimantan Utara terpantau 23 titik (berkurang enam titik dibanding kemarin)

Agus menjelaskan, kondisi cuaca berdasarkan jarak pandang, dengan rincian
Pekanbaru 5 kilometer (berasap)
Jambi 9 kilometer (berawan)
Palembang lebih dari sama dengan 10 kilometer (berawan) Pontianak 5 kilometer (berasap)
Pangkalan Bun 9 kilometer (berawan)
Palangkaraya 5 kilometer (berasap)
Sanggi-Buntok 4 kilometer (berasap)
Banjarmasin lebih dari sama dengan 10 kilometer (berawan) Tanjung Harapan-Tanjung Selor 5 kilometer (berasap)
“Sedang kualitas udara berdasar nilai PM10 menunjukkan Pekanbaru 166 (tidak sehat),
Pontianak 253 (sangat tidak sehat),
Palangkaraya 217 (sangat tidak sehat),
dan Sampit 26 (sehat),” ujar Agus.

Agus menuturkan, sejumlah 9.027 orang yang terdiri dari TNI, Polri, BNPB, BPBD, dan masyarakat di enam provinsi (Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Kalimanan Tengah, dan Kalimantan Selatan) berusaha memadamkan api baik dari darat atau udara.

Pemadaman lewat udara dilakukan melalui water bombing.

Sebelumnya, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) juga menyatakan bahwa Indonesia diprediksi masuk dalam kategori mudah terbakar pekan ini.

Berdasarkan hasil pemantauan selama seminggu terakhir (2–9 Agustus 2019) sedikitnya BMKG mengidentifikasi terdapat 7.540 titik panas di seluruh wilayah Asia Tenggara dan Papua Nugini.

Konsentrasi dari titik panas tersebut diantaranya berada di wilayah Indonesia (Riau, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Barat), juga terdeteksi di Malaysia (Serawak), Thailand, Kamboja, Vietnam, Myanmar, Filipina, Singapura, Timor Leste, dan Papua Nugini.

Deputi Bidang Meteorologi BMKG, Prabowo di Jakarta, Jumat (9/8/2019) mengungkapkan, informasi titik panas tersebut diperoleh dari hasil analisis BMKG berdasarkan citra Satelit Terra Aqua MODIS (NOAA) dan Satelit Himawari-8 (JMA).

Peningkatan jumlah titik panas ini, menurutnya diakibatkan kondisi atmosfer dan cuaca yang relatif kering sehingga mengakibatkan tanaman menjadi mudah terbakar.

“Kondisi kering yang diikuti dengan munculnya hotspot dapat berkembang potensial menjadi kebakaran hutan dan lahan yang pada akhirnya dapat memunculkan asap dan menurunkan kualitas udara.

Untuk itu diperlukan kewaspadaan dan langkah pencegahan serta antisipasi untuk meminimalisir dampak,” kata Prabowo.

 

 

 

 

 

 

Sumber : kompas.com
Gambar : BeritaHati.com

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *