Harga Minyak Brent & WTI Berlawanan Arah, Kenapa?

Harga minyak mentah dunia bergerak dua arah pada pagi hari ini. Adanya sentimen positif dan negatif membuat harga minyak masih sangat fluktuatif.

Pada perdagangan hari Rabu (21/8/2019) pukul 09:30 WIB, harga minyak Brent kontrak pengiriman Oktober menguat 0,13% ke level US$ 60,11/barel.

Sementara harga minyak light sweet (West Texas Intermediate/WTI) terkoreksi 0,23% ke posisi US$ 56,21/barel.

Adapun di sesi perdagangan kemarin (20/8/2019) harga Brent dan WTI ditutup menguat masing-masing sebesar 0,49% dan 0,23%.

Pelemahan harga WTI juga terjadi bahkan setelah American Petroleum Institute (API) mengatakan ada penurunan inventori minyak mentah AS sebesar 3,5 juta barel untuk minggu yang berakhir pada 16 Agustus 2019.

Padahal konsensus yang dihimpun Reuters memperkirakan penurunan stok minyak mentah hanya sebesar 1,9 juta barel pada periode yang sama. Setidaknya data API bisa memberi fondasi pada pergerakan harga minyak hari ini.

Data resmi stok minyak AS akan dirilis oleh US Energy Information Administration (EIA) pada hari malam hari ini pukul 21:30 WIB.

Bila penurunan stok benar terjadi dan melebihi ekspektasi pelaku pasar, maka harga minyak bisa kembali mendapat dorongan. Namun jika ternyata stok malah meningkat, harga minyak akan mendapat tekanan.

“Data inventori minyak AS minggu ini menjadi lebih penting dari biasanya karena telah memasuki akhir dari puncak musim mengemudi,” ujar Stephen Innes, managing partner VM Markets dalam sebuah catatan (note), seperti dikutip dari Reuters.

Sebagai informasi, pada saat liburan musim panas, penduduk AS gemar bepergian menggunakan mobil. Karena itulah musim panas juga biasa disebut dengan musim mengemudi di Negeri Paman Sam.

Selain itu kemarin Menteri Luar Negeri AS, Mike Pompeo juga mengatakan bahwa pihaknya akan mengambil segala tindakan yang diperlukan untuk mencegah pengiriman minyak oleh kapal tanker Iran ke Syiria atas pelanggaran sanksi AS.

Ketegangan yang masih terus terjadi di Timur Tengah membuat pasokan minyak global masih dibayang-bayangi risiko.

Untuk harga minyak ini menjadi berkah karena mempengaruhi keseimbangan fundamental (pasokan-permintaan). Pasokan seret, harga mendapat sentimen positif.

Sementara itu pada bulan Juni Arab Saudi hanya mengekspor minyak mentah sebanyak 6,72 juta barel/hari, yang mana turun dari bulan sebelumnya yang mencapai 6,94 juta barel/hari, berdasarkan data dari Joint Organizations Data Initiative (JODI), dikutip dari Reuters.

Sebelumnya pemerintah Arab Saudi memang sudah berkomitmen untuk tetap menjaga ekspor minyak mentah di bawah level 7 juta barel/hari untuk membuat keseimbangan fundamental tetap stabil.

Meski demikian, harga minyak masih terbebani oleh proyeksi pertumbuhan permintaan yang semakin lesu.

Sebagaimana yang telah diketahui, pada Jumat pekan lalu (16/8/2019) OPEC memangkas proyeksi pertumbuhan permintaan minyak tahun 2019 sebesar 40.000 barel/hari menjadi 1,1 juta barel/hari.

Sementara itu, permintaan minyak dunia tahun 2020 diperkirakan ada di level 29,41 juta barel/hari, yang mana turun 1,3 juta barel dari tahun 2019.

OPEC juga memberi sinyal bahwa akan ada kondisi surplus minyak pada tahun 2020. Surplus merupakan kondisi dimana pasokan lebih banyak ketimbang permintaan. Hal ini tentu membuat pelaku pasar sulit untuk mengapresiasi harga minyak.

 

 

 

Sumber : cnbcindonesia.com
Gambar : Suara.com

 

 

 

[social_warfare buttons=”Facebook,Pinterest,LinkedIn,Twitter,Total”]

 

 

 

BAGIKAN BERITA INI

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *