Hari Ke-4 Anjlok, Short Poundsterling Dapat Cuan Rp 29 Juta

Mata uang poundsterling Inggris melanjutkan pelemahannya menjadi 4 hari beruntun hingga perdagangan Kamis (16/5/19) kemarin. Isu Brexit yang kembali menghangat menjadi penekan utama pound.

Pada Kamis, pound mengakhiri perdagangan di level US$ 1,2795, sementara pada hari ini Jumat (17/5/19) pukul 7:30 WIB ditransaksikan di kisaran US$ 1,2970, mengutip data dari Refinitiv.

Jika dibandingkan dengan penutupan perdagangan pekan lalu di level US$ 1,2999 hingga Kamis kemarin, pound berarti telah turun 204 pip.

Pip adalah satuan poin terkecil untuk mewakili perubahan harga dalam trading forex. 1 pip dalam poundsterling senilai US$ 10 jika bertransaksi sebesar 1 lot.

Ketika terjadi penurunan, maka posisi jual (short) pound vs dolar (GBP/USD) akan menghasilkan cuan. Misalnya trader yang membuka posisi short Jumat dan menutup posisinya Kamis kemarin akan mendapat cuan 204 pip x US$ 10 = US$ 2.040 atau jika di-rupiah-kan lebih dari Rp 29 juta.

Jumlah profit belum termasuk potongan komisi dan bunga menginap yang berbeda-beda di setiap broker.

Untuk membuka 1 lot kontrak standar dibutuhkan modal yang berbeda-beda tergantung berapa leverage (rasio antara dana si trader sendiri dan dana pinjaman) yang digunakan oleh trader.

Jika leverage 1:100, maka jumlah modal yang dibutuhkan atau dikenal dengan margin untuk membuka 1 lot standar adalah 100.000/100 = US$ 1.000.

Dengan asumsi investasi menggunakan modal US$ 10.000, maka cuan yang dihasilkan sebesar 20% saat mengambil posisi short GBP/USD dengan transaksi 1 lot dalam empat hari.

Kembali ke isu Brexit yang membuat poundsterling terus anjlok, Perdana Menteri Inggris Theresa May kini diprediksi akan segera turun dari jabatannya. PM May berencana mengajukan proposal Brexit ke Parlemen Inggris di awal Juni, dan akan mengumumkan waktu kapan ia mengundurkan diri, dengan syarat proposal tersebut diterima parlemen.

Namun jika proposal tersebut ditolak, PM May kemungkinan akan menghadapi tekanan dari Partai Konservatif pimpinannya untuk segera mengundurkan diri.

Turunnya May dari posisi perdana menteri memberikan tekanan bagi pound, beberapa analis memprediksi tanpa May Inggris akan keluar tanpa kesepakatan dari Uni Eropa alias Hard Brexit.

“Apa yang kita lihat saat ini (penurunan poundsterling) adalah pasar memprediksi probabilias no-deal Brexit yang tinggi” kata Adam Cole, chief currency strategist di RBC Market Capital, melansir Reuters.

Cole menyoroti kemungkinan proposal Brexit akan kembali ditolak Parlemen Inggris, dan PM May diperkirakan akan turun dari jabatannya di akhir Juli sebelum parlemen memasuki masa reses.

“Kemungkinan Theresa May akan diganti oleh Perdana Menteri yang pro-Brexit tanpa melalui pemilu, dan secara otomatis meningkatkan probabilitas terjadinya Hard Brexit” tutup Cole.

Hard Brexit ditakutkan akan membawa Inggris memasuki resesi, meski perekonomian Negeri Raru Elizabeth ini masih cukup kuat di awal tahun 2019. Di saat perang dagang sedang memanas, ditambah dengan isu lengseā€¦
[12:28, 5/17/2019] Agnes Regina Aruan: Bisnis Global

Loyo Lagi, Rupiah Kembali Tertekan ke Rp14.460 per Dolar AS

Nilai tukar rupiah berada di posisi Rp14.460 per dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan pasar spot Jumat (17/5) pagi. Dengan demikian, rupiah melemah 0,06 persen dibandingkan penutupan Kamis (16/5) yakni Rp14.452 per dolar AS.

Pagi hari ini, sebagian besar mata uang utama Asia memang melemah terhadap dolar AS. Ringgit Malaysia melemah 0,18 persen, yen Jepang melemah 0,14 persen, peso Filipina melemah 0,07 persen, dan dolar Singapura melemah 0,01 persen.

Meskipun demikian, terdapat pula mata uang Asia yang menguat terhadap dolar AS, seperti baht Thailand sebesar 0,01 persen dan won Korea Selatan sebesar 0,02 persen. Dolar Hong Kong sendiri tidak bergerak melawan dolar AS.

Direktur Utama PT Garuda Berjangka Ibrahim mengatakan rupiah saat ini memang belum terlepas dari ‘sengatan’ perang dagang antara AS dan China. ‘Sengatan’ yang menekan pergerakan rupiah selama dua pekan terakhir memang sudah mulai mereda setelah Presiden AS Donald Trump mengatakan bahwa negosiasi perang dagang dengan China sangat baik.

Tapi berbarengan dengan menurunnya ketegangan dagang tersebut, rupiah mendapatkan sentimen negatif dari dalam negeri. Sentimen datang dari proyeksi defisit neraca transaksi berjalan Bank Indonesia (BI).

Sebagai informasi, BI memproyeksikan defisit transaksi berjalan bisa mencapai 3 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) di tahun ini. Padahal, selama empat bulan ke belakang, BI yakin defisit transaksi berjalan bisa ditekan di level 2,5 persen.

“Artinya, bank sentral sudah memperkirakan bahwa defisit transaksi berjalan masih akan sulit diberantas. Bahkan berpotensi untuk semakin melebar, hal ini disebabkan meningkatnya ketidakpastian perekonomian global yang berdampak pada kinerja ekspor Indonesia,” jelas Ibrahim, Jumat (17/5).

Selain sentimen tersebut, rupiah juga mendapatkan tekanan dari penguatan indeks dolar yang terjadi akibat perbaikan data ekonomi AS. Sebagai gambaran data pembangunan rumah AS pada April tercatat sebanyak 1,23 juta unit atau tumbuh 5,7 persen secara tahunan.

Pembangunan tersebut lebih besar dari proyeksi sebelumnya yang hanya 1,20 juta unit di bulan Maret.

Selain itu data pengangguran AS juga membaik pada pekan lalu. Departemen Ketenagakerjaan AS mencatat pendaftaran manfaat pengangguran (unemployment benefit) turun 16 ribu menjadi 212 ribu. Dua faktor ini membuat dolar perkasa dibanding mata uang lainnya.

“Sehingga, rupiah akan diperdagangkan di level Rp14.420 hingga Rp14.470 per dolar AS,” kata Ibrahim.

 

 

 

 

 

sumber : cnnindonesia.com
Gambar : Tribunnews.com

 

 

 

 

[social_warfare buttons=”Facebook,Pinterest,LinkedIn,Twitter,Total”]

BAGIKAN BERITA INI

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *