Perusahaan Teknologi Desak Trump Batalkan Pengenaan Tarif Barang Impor China

Sejumlah perusahaan teknologi dan ritel terkemuka di Amerika Serikat melakukan desakan di menit-menit terakhir untuk meyakinkan Presiden Donald Trump agar mengubah arah pada rencana mengenakan pada lebih banyak barang impor China. Publik dapat memberikan komentar hingga Kamis terhadap rencana pemerintah untuk mengenakan bea impor pada barang asal China yang nilainya mencapai US$200 miliar, mulai dari sepeda dan sarung tangan baseball hingga kamera digital, membuka jalan bagi Trump untuk mengumumkan tarif secepatnya pada hari Jumat.

Dalam wawancara dengan Bloomberg, Trump pekan lalu tidak menunjukkan tanda-tanda untuk mundur dari kebijakan ini, seraya mengulangi keluhannya yang sudah lama bahwa China telah mengambil keuntungan dari AS dan para pemimpinnya selama beberapa dekade terakhir. “Sudah waktunya berhenti. Kami tidak bisa membiarkan ini terjadi,” ungkap Trump.

“Kami pikir ada kemungkinan besar itu terjadi dalam waktu dekat,” kata Josh Kallmer, Wakil Presiden eksekutif untuk kebijakan di Dewan Teknologi Industri Informasi. “Semakin sulit bagi pemerintah untuk melakukan apa yang dikatakannya, yang meminimalkan bahaya bagi konsumen,” lanjutnya. Pada hari Kamis, Cisco Systems Inc., Hewlett-Packard Enterprise Co., dan perusahaan teknologi lainnya mengirim surat kepada Perwakilan Perdagangan AS, Robert Lighthizer, untuk mendesak agar pemerintah menghindari memberlakukan tarif lebih banyak.

Sejumlah perusahaan tersebut beralasan, peningkatan bea impor peralatan jaringan telekomunikasi akan meningkatkan biaya pemerintah untuk mengakses Internet dan memperlambat peluncuran teknologi nirkabel generasi mendatang. Dalam pernyataan terpisah, koalisi Federasi Ritel Nasional dan 150 organisasi mengatakan produsen dan perusahaan kecil dan menengah tidak dapat dengan cepat menyesuaikan dan tarif yang dikenakan sejauh ini.

Pemerintah harus menghentikan pengenaan tarif lebih lanjut dan memberikan kesempatan lain untuk membicarakan kesepakatan perdagangan dengan China. “Tarif tit-for-tat adalah kontraproduktif dan sejauh ini hanya menghasilkan peningkatan biaya untuk bisnis, petani, importir, eksportir, dan konsumen di AS,” kata koalisi tersebut.

Tarif terbaru tersebut akan menambah jumlah barang impor asal China menjadi senilai US$250 miliar, yang mencakup hampir setengah dari semua impor ke AS tahun lalu. Beijing mengancam akan membalas dengan bea masuk produk-produk AS yang nilainya mencapai US$60 miliar. Gao Feng, juru bicara Kementerian Perdagangan China mengatakan negaranya akan terpaksa memberlakukan kebijakan balasan jika AS mengabaikan penolakan pada dengar pendapat publik dan memberlakukan tarif tambahan.

Konflik perdagangan antara dua negara dengan ekonomi terbesar di dunia tersebut menunjukkan sedikit tanda mereda, kira-kira dua bulan setelah AS memberlakukan tarif impor pertama pada barang-barang China, namun negosiasi untuk meredakan ketegangan masih terhambat. Dana Moneter Internasional telah memperingatkan bahwa perang dagang dapat melemahkan pemulihan ekonomi global saat ini, yang merupakan yang terkuat dalam beberapa tahun terakhir.

 

 

 

 

Sumber Berita : bisnis.com
Sumber foto : CNBC Indonesia

 

 

[social_warfare buttons = “Facebook, Pinterest, LinkedIn, Twitter, Total”]

BAGIKAN BERITA INI

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *